Minggu, 10 Juli 2022

Bahkan Ia Lupa Menyebut Dirinya

Ibu adalah satu-satunya wanita yang lupa mendoakan dirinya di dalam rangkaian munajatnya. Sebab hati dan lisannya telah tersibukkan dengan doa untuk anak-anaknya.

Semoga Allah memuliakan setiap ibu dengan kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya.

Hukum Berdiri dengan Satu Kaki di dalam Shalat

Orang yang shalat dimakruhkan bila berdiri hanya dengan satu kaki, sementara kaki lainnya tidak menopang tubuh meski mengenai lantai. Sikap seperti itu dikenal dengan istilah shafn, dari kata shafana al-faras (kuda berdiri di atas tiga kaki, satu kaki lainnya tidak menapak ke bumi).

Al-Hafizh al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya, juz 1, halaman 152, mengatakan, “Said bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibn Mas’ud ra melihat seseorang yang mengangkat sebelah kakinya (ketika shalat), lalu ia berkata, “Orang ini menyalahi sunnah.”  

Hawa Nafsu dan Akal

Imam Syafi’i bersenandung dengan syairnya:

إِذَا حَارَ أَمْرُكَ فِيْ مَعْنَيَيْنِ # وَلَمْ تَدْرِ حَيْثُ الْخَطَا وَالصَّوَابُ

فَخَالِفْ حَوَاكَ فَإِنَّ الْحَوَى # يَقُوْدُ النُّفُسَ إِلَى مَا يُعَابُ 

Apabila kamu dibingungkan mengenai suatu persoalan yang memiliki dua akibat,

dan kamu tidak bisa melihat dengan jernih antara yang salah dan yang benar,

maka berpalinglah kamu dari bisikan-bisikan hawa nafsumu,

sebab ia hanya akan menjerumuskan jiwamu pada keburukan.

(Mukasyafat al-Qulub)

Minggu, 03 Juli 2022

Jangan Gelisah

Imam Syafi'i berkata:

وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَيَالِي # فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

Janganlah kamu gelisah terhadap musibah-musibah yang terjadi pada malam hari.

Sebab, tiada satupun musibah dunia itu yang kekal abadi.

Keterangan:

Kebanyakan dari manusia kehilangan kesabaran, bahkan merasa risau tatkala tertimpa musibah. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia itu tidaklah selalu dalam satu kondisi. 

Kamis, 30 Juni 2022

Puasa Arafah Sudah Ada Sebelum Ada Wukuf di Arafah

Menurut sebuah hadits dari Anas ra:

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ" – رواه أبوداود والنسائى والحاكم

Dari Anas ra, ia berkata: Rasulullah Saw datang ke Madinah, dan mereka (warga Madinah)  mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada keduanya. Beliau bertanya: “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab: “Di dua hari ini kami biasa bermain-main pada masa jahiliyah”. Maka beliau bersabda, “Sungguh Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Adha dan Hari Fitri.” (Sunan Abu Daud, 1:295, Sunan an-Nasa-i, 3:179, Al-Mustadrak Ala ash-Shahihain Li al-Hakim, 1:434. Redaksi di atas versi Abu Daud.)

Sehubungan dengan hadits di atas para ulama menerangkan bahwa Id yang pertama disyariatkan adalah Idul Fitri, kemudian Idul Adha. Keduanya disyariatkan pada tahun ke-2 hijriyah. (Shubhu al-A’sya, 2:444; Bulughu al-Amani, juz 6:119; Subulu as-Salam, I:60).

Para ulama juga menerangkan: “Yaum fitri dari Ramadhan (ditetapkan) sebagai Id bagi semua umat ini tiada lain sebagai isyarat karena banyaknya pembebasan (dari neraka), sebagaimana hari Nahr, yang dia itu Id akbar, karena banyaknya pembebasan (dari neraka) pada hari Arafah sebelum Idul Adha. Karena tidak ada hari yang dipandang lebih banyak pembebasan daripada hari itu (Arafah)”. (Hasyiah al-Jumal, 6:203, Hasyiah al-Bajirumi ‘ala al-Manhaj, 4:235).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa puasa Arafah mulai disyariatkan bersamaan dengan Idul Adha, yaitu tahun ke-2 Hijriyah. Keduanya disyariatkan setelah disyariatkannya puasa Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun yang sama.