Tegukan Hikmah
Tegukan Hikmah
“Demi Allah, aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Aku dalam posisi dan keadaan terpaksa. Aku ingin di antara kalian ada yang mampu menggantikan posisiku ini. Apakah kalian mengira aku akan melaksanakan sunnah Rasulullah Saw secara penuh? Tidak, aku tidak mampu melaksanakan semuanya. Sesungguhnya Rasulullah Saw dijaga dengan wahyu, dan malaikat bersama beliau. Sementara setan bersamaku, yang selalu menggodaku. Jika aku marah maka menjauhlah dariku, agar aku tidak menzalimi rambut dan kulit kalian. Perhatikanlah ucapanku ini!” (Kitab Kanzul Ummal pada hadits nomor 14118).
Tegukan Hikmah
“Hisablah diri kalian sebelum tiba waktu penghisaban kalian. Sungguh, tidaklah suatu kaum itu meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menimpakan kefakiran pada mereka. Dan tidaklah perbuatan zina itu merebak dalam suatu kaum, kecuali Allah akan menimpakan siksa-Nya pada mereka.” (Kitab Kanzul Ummal pada hadits nomor 14114).
Tegukan Hikmah
Di sini dzikrullah berfungsi sebagai obat, yakni obat bagi penyakit hati yang mengeras. Sungguh tidak ada obat lain yang dapat melembutkan kembali hati yang telah membeku kecuali dzikrullah.
Salman Al-Farisi suatu ketika didatangi seseorang yang hendak mengajukan pertanyaan padanya, “Wahai Salman, beritahukan padaku amal apakah yang paling istimewa?” Salman menjawab, “Tidakkah engkau membaca surat Al-Ankabut [29] ayat 45? Di sana Allah Swt. menegaskan: ‘Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keistimewaannya daripada ibadah yang lain.’”
Sementara Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dzikir merupakan makanan pokok bagi hati. Keadaan hati yang tanpa dzikir laksana tubuh yang tak pernah terisi makanan bergizi. Apabila tubuh tak pernah mengonsumsi makanan bergizi, bisa dipastikan keadaannya akan kurus tanpa tenaga. Tubuh akan sulit berkembang dan potensi diri tak bisa dimaksimalkan.
Demikianlah gambaran bagi hati yang tanpa dzikir. Kelembutannya akan hilang dan digantikan dengan keadaan yang keras. Bila hati sudah mengeras maka tak ada lagi ruang bagi petunjuk di dalamnya. Manusia yang hidup tanpa hati yang terisi petunjuk akan mempertuhan nafsunya, dan pada akhirnya nilainya akan jatuh bahkan lebih rendah daripada seekor hewan.
Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)
Hidup dan matinya hati seseorang sangat bergantung pada amal yang dilakukannya. Tatkala ketaatan menjadi kebiasaan yang menghiasi kehidupan sehari-hari seorang hamba, maka sudah bisa dipastikan bahwa kehidupan hati berlangsung dengan baik. Sebaliknya, bila kemaksiatan yang mewarnai hidup seorang hamba, maka pun bisa dipastikan bahwa kehidupan hatinya akan terganggu, bahkan bisa mematikannya.
Hal itu dikarenakan ketaatan adalah sumber utama energi kehidupan bagi hati, sementara kemaksiatan merupakan jalan utama masuknya racun yang akan menggerogoti kehidupan hati, yang lambat laun membawa hati pada tahap kematian.
Berhijrah, arti asalnya adalah meninggalkan. Istilah hijrah dipakai untuk menyebut beberapa hal: Pertama: hijrah sahabat dari Mekah ke Habasyah yang terjadi, menurut Al-Baihaqi, pada tahun ke-5 setelah diutusnya Rasul Saw. Kedua: hijrah dari Mekah ke Madinah yang terjadi pada tahun ke-13 setelah diutusnya Rasul Saw. Ketiga: hijrahnya berbagai kabilah kepada Rasul Saw. untuk belajar syariat, kemudian kembali ke kaumnya untuk mengajarkan syariat tersebut. Keempat: hijrahnya penduduk Mekah yang masuk Islam untuk menjumpai Nabi Saw. kemudian kembali kepada kaumnya. Kelima: hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Keenam: suami yang pisah ranjang dengan istrinya yang secara nyata berbuat nusyuz, termasuk dalam istilah ini menghindarkan diri dari pelaku maksiat. Ketujuh: meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah Swt.
“Ikhlas tidak berlaku pada amal yang mubah, makruh, terlebih lagi amal yang diharamkan Allah,” kata Al-Harits Al-Muhasibi. Alasannya adalah, karena amalan-amalan tersebut tidak mengandung pendekatan diri kepada Allah, apalagi membawa manusia untuk lebih dekat kepada-Nya.
Sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya, amalan-amalan itu hanyalah…”, mengandung pengertian bahwa yang menjadi batasan sah, benar, diterima atau sempurnanya amal adalah niat. Bila seseorang memberi makan hewan ternaknya dengan niat melaksanakan perintah Allah, maka ia mendapat pahala. Tapi, bila ia niatkan agar ternaknya itu menjadi gemuk sehingga ketika dijual akan laku dengan harga yang lebih mahal, maka ia tidak diberi pahala. Tatkala seseorang yang akan tidur malam terlebih dahulu menutup pintu dan mematikan lampu, bila ia melakukan hal itu karena perintah Allah maka ia memperoleh pahala. Namun jika bermaksud lain maka ia tak mendapatkan pahala. Demikian pendapat Imam Abu Hanifah yang disebutkan oleh Al-Qarafi.
Dalam kitab itu, Al-Harits Al-Muhasibi juga berbicara tentang sifat riya’. Menurut pendapatnya riya’ itu terbagi dua, yakni beramal dengan harapan memperoleh pujian manusia dan beramal diiringi kehendak untuk memperoleh pujian manusia sekaligus ridha dari Allah Swt. Kedua macam riya’ itu, menurutnya, dapat memusnahkan pahala amal yang dilakukan.
Sungguh, niat merupakan tolok ukur lurusnya suatu amal perbuatan. Para ulama membagi amal yang disertai niat itu menjadi tiga bagian. Pertama: Amal yang dikerjakan dengan niat karena rasa takut kepada Allah. Amal yang demikian ini disebut amalnya para budak. Kedua: Amal yang dikerjakan dengan niat untuk mencari pahala dan meraih Surga. Amal yang demikian ini disebut amalnya para pedagang. Ketiga: Amal yang dikerjakan dengan niat karena malu pada Allah, karena dorongan rasa syukur pada-Nya. Pada bagian ketiga ini orang yang beramal tetap memandang bahwa dirinya belum beramal secara maksimal. Ia juga menyimpan rasa takut kalau-kalau amal yang dikerjakannya itu tidak diterima oleh Allah Swt.
Demikianlah, saat engkau melakukan kesalahan dan dosa, segeralah berhenti. Karena semakin kau jauh melakukan kesalahan, akan semakin berat dan susah untuk kembali dengan taubatmu.
agar orang-orang mencintaimu. Manusia itu
hatinya mudah berubah.
Mungkin saja hari ini mereka
mencintaimu, namun
esok hari berubah jadi membencimu.
Tapi jadikanlah
kekhawatiranmu hanya
untuk memperoleh cinta
dari Allah Ta'ala. Jika Allah
mencintaimu, maka Dia akan
jadikan hati orang-orang itu cinta kepadamu.
menutup semua pintunya
untukmu...
Ingatlah...!
Pintu langit senantiasa
terbuka untukmu, maka
ketuklah...
Imam Syafi’i berkata di dalam syairntya:
حَسْبِيْ بِعِلْمِيْ إِنْ نَفَعْ # مَا الذُّلُّ إِلَّا فِي الطَّمَعْ
مَنْ رَاقَبَ اللهَ رَجَعْ # مَا طَارَ طَيْرٌ وَارْتَفَعْ إِلَّا كَمَا طَارَ وَقَعْ
Ilmuku sudah cukup untukku apabila ia berguna
Kehinaan hanya terjadi jika kita bersifat tamak
Orang yang merasa diawasi Allah, akan kembali ke jalan yang benar
Burung-burung yang terbang dan membumbung tinggi akhirnya hinggap kembali ke tempat semula
Keterangan:
Pepatah mengatakan, “Sesungguhnya, ilmu itu lebih baik daripada harta. Dengan ilmu, seseorang bisa mendapatkan harta, tetapi tidak sebaliknya. Sebab, harta tidaklah dapat mendatangkan ilmu.”
Siapa saja yang diberi Allah Swt ilmu yang bermanfaat, maka sudah sepantasnya ia bersyukur atas sesuatu yang diberikan kepadanya. Sudah sepantasnya pula ia merasa hidup mulia dan lega atas ilmu yang dimilikinya. Janganlah ia sampai bersusah payah mengejar harta dunia bagaikan orang yang tak punya apa-apa. Sungguh, betapa banyak kehinaan dan ketamakan mencekik leher orang-orang lantaran ia tak bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
Imam Syafi’i berkata:
وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَّأَنِّي # وَلَيْسَ يَزِيْدُ فِي الرِّزْقِ الْعَنَاءُ
Sebuah keterlambatan tidak akan mengurangi rezekimu.
Dan, rezekimu pun juga tidak akan bertambah dengan kepayahan badanmu.
Keterangan:
Rezeki masing-masing orang itu sudah ditanggung oleh Allah Swt. Oleh karena itu, carilah rezeki secara wajar, tidak berlebihan, apalagi sampai saling bertikai.
Semoga Allah memuliakan setiap ibu dengan kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya.
Imam Syafi’i bersenandung dengan syairnya:
إِذَا حَارَ أَمْرُكَ فِيْ مَعْنَيَيْنِ # وَلَمْ تَدْرِ حَيْثُ الْخَطَا وَالصَّوَابُ
فَخَالِفْ حَوَاكَ فَإِنَّ الْحَوَى # يَقُوْدُ النُّفُسَ إِلَى مَا يُعَابُ
Apabila kamu dibingungkan mengenai suatu persoalan yang memiliki dua akibat,
dan kamu tidak bisa melihat dengan jernih antara yang salah dan yang benar,
maka berpalinglah kamu dari bisikan-bisikan hawa nafsumu,
sebab ia hanya akan menjerumuskan jiwamu pada keburukan.
(Mukasyafat al-Qulub)
Imam Syafi'i berkata:
وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَيَالِي # فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ
Janganlah kamu gelisah terhadap musibah-musibah yang terjadi pada malam hari.
Sebab, tiada satupun musibah dunia itu yang kekal abadi.
Keterangan:
Kebanyakan dari manusia kehilangan kesabaran, bahkan merasa risau tatkala tertimpa musibah. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia itu tidaklah selalu dalam satu kondisi.