Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juli 2023

Kagum terhadap Perhiasan Dunia

‘Aisyah ra berkisah kepada kita. Katanya, “Suatu ketika aku memakai baju besi baruku. Aku terus memandanginya dan merasa kagum terhadapnya. Lalu, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra berkata, ‘Apa yang engkau lihat?! Sesungguhnya Allah tidak melihat kepadamu!’ Aku bertanya, ‘Kenapa bisa begitu?’ Abu Bakar ra menjawab, ‘Tidakkah engkau ketahui, ketika seorang hamba dihinggapi rasa takjub terhadap perhiasan dunia, maka Allah Swt murka kepadanya hingga Dia memisahkan perhiasan itu darinya.” Aisyah berkata, ‘Lalu, aku lepas pakaian itu dan aku sedekahkan.’ Abu Bakar Ash-Shiddiq ra berkata, ‘Mudah-mudahan yang engkau lakukan bisa menghapus dosa-dosamu.’” (Kitab Tahdzibu Hilyatil Auliya’, I/60).

Tegukan Hikmah

Minggu, 02 Juli 2023

Mengakui Kelemahan Diri

Diriwayatkan bahwa dalam khutbahnya yang lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berkata:

“Demi Allah, aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Aku dalam posisi dan keadaan terpaksa. Aku ingin di antara kalian ada yang mampu menggantikan posisiku ini. Apakah kalian mengira aku akan melaksanakan sunnah Rasulullah Saw secara penuh? Tidak, aku tidak mampu melaksanakan semuanya. Sesungguhnya Rasulullah Saw dijaga dengan wahyu, dan malaikat bersama beliau. Sementara setan bersamaku, yang selalu menggodaku. Jika aku marah maka menjauhlah dariku, agar aku tidak menzalimi rambut dan kulit kalian. Perhatikanlah ucapanku ini!” (Kitab Kanzul Ummal pada hadits nomor 14118).

Tegukan Hikmah

Senin, 26 Juni 2023

Hisablah Diri Kalian

Diriwayatkan bahwa dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra pernah berpesan:

“Hisablah diri kalian sebelum tiba waktu penghisaban kalian. Sungguh, tidaklah suatu kaum itu meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menimpakan kefakiran pada mereka. Dan tidaklah perbuatan zina itu merebak dalam suatu kaum, kecuali Allah akan menimpakan siksa-Nya pada mereka.” (Kitab Kanzul Ummal pada hadits nomor 14114).

Tegukan Hikmah

Kamis, 26 Januari 2023

Memperbanyak Dzikrullah dan Tilawah Al-Qur’an (Bagian Kedua)

Dalam riwayat lain, Makhul menegaskan, “Menyebut dan mengingat nama Allah adalah obat, sedangkan menyebut dan mengingat nama sesama manusia adalah penyakit.”

Di sini dzikrullah berfungsi sebagai obat, yakni obat bagi penyakit hati yang mengeras. Sungguh tidak ada obat lain yang dapat melembutkan kembali hati yang telah membeku kecuali dzikrullah.

Salman Al-Farisi suatu ketika didatangi seseorang yang hendak mengajukan pertanyaan padanya, “Wahai Salman, beritahukan padaku amal apakah yang paling istimewa?” Salman menjawab, “Tidakkah engkau membaca surat Al-Ankabut [29] ayat 45? Di sana Allah Swt. menegaskan: ‘Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keistimewaannya daripada ibadah yang lain.’”

Senin, 09 Januari 2023

Memperbanyak Dzikrullah dan Tilawah Al-Qur’an (Bagian Pertama)

“Kebutuhan hati terhadap dzikir laksana kebutuhan ikan terhadap air.” Demikian Ibnu Taimiyah menjelaskan kedudukan dzikir bagi hati manusia. Kita tentu bisa bayangkan betapa pentingnya dzikir bagi hati. Ikan tanpa adanya air akan mati. Begitu pula dengan hati, ia akan mati ketika dzikir tak pernah bergetar di dalamnya.

Sementara Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dzikir merupakan makanan pokok bagi hati. Keadaan hati yang tanpa dzikir laksana tubuh yang tak pernah terisi makanan bergizi. Apabila tubuh tak pernah mengonsumsi makanan bergizi, bisa dipastikan keadaannya akan kurus tanpa tenaga. Tubuh akan sulit berkembang dan potensi diri tak bisa dimaksimalkan.

Demikianlah gambaran bagi hati yang tanpa dzikir. Kelembutannya akan hilang dan digantikan dengan keadaan yang keras. Bila hati sudah mengeras maka tak ada lagi ruang bagi petunjuk di dalamnya. Manusia yang hidup tanpa hati yang terisi petunjuk akan mempertuhan nafsunya, dan pada akhirnya nilainya akan jatuh bahkan lebih rendah daripada seekor hewan.

Sabtu, 07 Januari 2023

Agar Hati Tetap Hidup

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ 

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada di dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

Hidup dan matinya hati seseorang sangat bergantung pada amal yang dilakukannya. Tatkala ketaatan menjadi kebiasaan yang menghiasi kehidupan sehari-hari seorang hamba, maka sudah bisa dipastikan bahwa kehidupan hati berlangsung dengan baik. Sebaliknya, bila kemaksiatan yang mewarnai hidup seorang hamba, maka pun bisa dipastikan bahwa kehidupan hatinya akan terganggu, bahkan bisa mematikannya.

Hal itu dikarenakan ketaatan adalah sumber utama energi kehidupan bagi hati, sementara kemaksiatan merupakan jalan utama masuknya racun yang akan menggerogoti kehidupan hati, yang lambat laun membawa hati pada tahap kematian.

Jumat, 30 Desember 2022

Belajar Mengikhlaskan Amal (Terakhir)

Sabda Nabi Saw.: “Maka barangsiapa hijrahnya ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan diterima Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya ditujukan untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu akan sampai pada apa yang diniatkannya.”

Berhijrah, arti asalnya adalah meninggalkan. Istilah hijrah dipakai untuk menyebut beberapa hal: Pertama: hijrah sahabat dari Mekah ke Habasyah yang terjadi, menurut Al-Baihaqi, pada tahun ke-5 setelah diutusnya Rasul Saw. Kedua: hijrah dari Mekah ke Madinah yang terjadi pada tahun ke-13 setelah diutusnya Rasul Saw. Ketiga: hijrahnya berbagai kabilah kepada Rasul Saw. untuk belajar syariat, kemudian kembali ke kaumnya untuk mengajarkan syariat tersebut. Keempat: hijrahnya penduduk Mekah yang masuk Islam untuk menjumpai Nabi Saw. kemudian kembali kepada kaumnya. Kelima: hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Keenam: suami yang pisah ranjang dengan istrinya yang secara nyata berbuat nusyuz, termasuk dalam istilah ini menghindarkan diri dari pelaku maksiat. Ketujuh: meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah Swt.

Selasa, 27 Desember 2022

Belajar Mengikhlaskan Amal (3)

Ketika Nabi Saw. bersabda “Sesungguhnya, amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niat”, maka yang dimaksud adalah amal ketaatan. Sementara amalan-amalan yang mubah tidak termasuk di dalamnya.

“Ikhlas tidak berlaku pada amal yang mubah, makruh, terlebih lagi amal yang diharamkan Allah,” kata Al-Harits Al-Muhasibi. Alasannya adalah, karena amalan-amalan tersebut tidak mengandung pendekatan diri kepada Allah, apalagi membawa manusia untuk lebih dekat kepada-Nya.

Sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya, amalan-amalan itu hanyalah…”, mengandung pengertian bahwa yang menjadi batasan sah, benar, diterima atau sempurnanya amal adalah niat. Bila seseorang memberi makan hewan ternaknya dengan niat melaksanakan perintah Allah, maka ia mendapat pahala. Tapi, bila ia niatkan agar ternaknya itu menjadi gemuk sehingga ketika dijual akan laku dengan harga yang lebih mahal, maka ia tidak diberi pahala. Tatkala seseorang yang akan tidur malam terlebih dahulu menutup pintu dan mematikan lampu, bila ia melakukan hal itu karena perintah Allah maka ia memperoleh pahala. Namun jika bermaksud lain maka ia tak mendapatkan pahala. Demikian pendapat Imam Abu Hanifah yang disebutkan oleh Al-Qarafi.

Belajar Mengikhlaskan Amal (2)

Al-Harits Al-Muhasibi adalah salah seorang ulama yang berpendapat bahwa amal yang diniatkan untuk dunia dan akhirat secara bersamaan tertolak. Dalam kitabnya Ar-Ri’ayah ia memberikan definisi ikhlas. Ia mengatakan bahwa ikhlas adalah ketika engkau melaksanakan amal ketaatan dengan tujuan untuk mencari ridha-Nya, bukan mencari selain itu. Totalitas ibadah yang ditujukan semata-mata untuk meraih ridha Allah merupakan syarat utama keikhlasan. Bila ada tujuan lain selain ridha Allah, maka amal yang dilakukan itu tidak bisa dikatakan sebagai amal yang ikhlas.

Dalam kitab itu, Al-Harits Al-Muhasibi juga berbicara tentang sifat riya’. Menurut pendapatnya riya’ itu terbagi dua, yakni beramal dengan harapan memperoleh pujian manusia dan beramal diiringi kehendak untuk memperoleh pujian manusia sekaligus ridha dari Allah Swt. Kedua macam riya’ itu, menurutnya, dapat memusnahkan pahala amal yang dilakukan.

Senin, 26 Desember 2022

Belajar Mengikhlaskan Amal (1)

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs, ‘Umar bin Khaththab ra. yang berkata, “Aku pernah mendengar Rasul Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya diterima Allah dan Rasul-Nya; barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu pun akan sampai kepada apa yang diniatkannya.’” (HR Imam Bukhari-Muslim)

Sungguh, niat merupakan tolok ukur lurusnya suatu amal perbuatan. Para ulama membagi amal yang disertai niat itu menjadi tiga bagian. Pertama: Amal yang dikerjakan dengan niat karena rasa takut kepada Allah. Amal yang demikian ini disebut amalnya para budak. Kedua: Amal yang dikerjakan dengan niat untuk mencari pahala dan meraih Surga. Amal yang demikian ini disebut amalnya para pedagang. Ketiga: Amal yang dikerjakan dengan niat karena malu pada Allah, karena dorongan rasa syukur pada-Nya. Pada bagian ketiga ini orang yang beramal tetap memandang bahwa dirinya belum beramal secara maksimal. Ia juga menyimpan rasa takut kalau-kalau amal yang dikerjakannya itu tidak diterima oleh Allah Swt.

Sabtu, 17 September 2022

Segeralah Berhenti

Ketika engkau naik kereta yang salah jurusannya, berusahalah untuk turun pada stasiun pemberhentian pertama. Karena semakin bertambah jauh kereta berjalan, maka akan semakin susah engkau untuk kembali.

Demikianlah, saat engkau melakukan kesalahan dan dosa, segeralah berhenti. Karena semakin kau jauh melakukan kesalahan, akan semakin berat dan susah untuk kembali dengan taubatmu.

Rabu, 31 Agustus 2022

Khawatirlah...

Jangan sampai engkau berharap 

agar orang-orang mencintaimu. Manusia itu 

hatinya mudah berubah. 

Mungkin saja hari ini mereka 

mencintaimu, namun 

esok hari berubah jadi membencimu.

Tapi jadikanlah 

kekhawatiranmu hanya 

untuk memperoleh cinta 

dari Allah Ta'ala. Jika Allah 

mencintaimu, maka Dia akan 

jadikan hati orang-orang itu cinta kepadamu.

Sabtu, 20 Agustus 2022

Mengetuk Pintu Langit

Meski kehidupan telah 

menutup semua pintunya 

untukmu...

Ingatlah...!

Pintu langit senantiasa 

terbuka untukmu, maka

ketuklah...

Minggu, 17 Juli 2022

Ada Kehinaan dalam Ketamakan

Imam Syafi’i berkata di dalam syairntya:

حَسْبِيْ بِعِلْمِيْ إِنْ نَفَعْ # مَا الذُّلُّ إِلَّا فِي الطَّمَعْ

مَنْ رَاقَبَ اللهَ رَجَعْ # مَا طَارَ طَيْرٌ وَارْتَفَعْ إِلَّا كَمَا طَارَ وَقَعْ

Ilmuku sudah cukup untukku apabila ia berguna

Kehinaan hanya terjadi jika kita bersifat tamak

Orang yang merasa diawasi Allah, akan kembali ke jalan yang benar

Burung-burung yang terbang dan membumbung tinggi akhirnya hinggap kembali ke tempat semula

Keterangan:

Pepatah mengatakan, “Sesungguhnya, ilmu itu lebih baik daripada harta. Dengan ilmu, seseorang bisa mendapatkan harta, tetapi tidak sebaliknya. Sebab, harta tidaklah dapat mendatangkan ilmu.”

Siapa saja yang diberi Allah Swt ilmu yang bermanfaat, maka sudah sepantasnya ia bersyukur atas sesuatu yang diberikan kepadanya. Sudah sepantasnya pula ia merasa hidup mulia dan lega atas ilmu yang dimilikinya. Janganlah ia sampai bersusah payah mengejar harta dunia bagaikan orang yang tak punya apa-apa. Sungguh, betapa banyak kehinaan dan ketamakan mencekik leher orang-orang lantaran ia tak bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

Rabu, 13 Juli 2022

Rezeki Sudah Ditanggung Allah

Imam Syafi’i berkata:

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَّأَنِّي # وَلَيْسَ يَزِيْدُ فِي الرِّزْقِ الْعَنَاءُ

Sebuah keterlambatan tidak akan mengurangi rezekimu.

Dan, rezekimu pun juga tidak akan bertambah dengan kepayahan badanmu.

Keterangan:

Rezeki masing-masing orang itu sudah ditanggung oleh Allah Swt. Oleh karena itu, carilah rezeki secara wajar, tidak berlebihan, apalagi sampai saling bertikai. 

Minggu, 10 Juli 2022

Bahkan Ia Lupa Menyebut Dirinya

Ibu adalah satu-satunya wanita yang lupa mendoakan dirinya di dalam rangkaian munajatnya. Sebab hati dan lisannya telah tersibukkan dengan doa untuk anak-anaknya.

Semoga Allah memuliakan setiap ibu dengan kemuliaan yang tinggi di sisi-Nya.

Hawa Nafsu dan Akal

Imam Syafi’i bersenandung dengan syairnya:

إِذَا حَارَ أَمْرُكَ فِيْ مَعْنَيَيْنِ # وَلَمْ تَدْرِ حَيْثُ الْخَطَا وَالصَّوَابُ

فَخَالِفْ حَوَاكَ فَإِنَّ الْحَوَى # يَقُوْدُ النُّفُسَ إِلَى مَا يُعَابُ 

Apabila kamu dibingungkan mengenai suatu persoalan yang memiliki dua akibat,

dan kamu tidak bisa melihat dengan jernih antara yang salah dan yang benar,

maka berpalinglah kamu dari bisikan-bisikan hawa nafsumu,

sebab ia hanya akan menjerumuskan jiwamu pada keburukan.

(Mukasyafat al-Qulub)

Minggu, 03 Juli 2022

Jangan Gelisah

Imam Syafi'i berkata:

وَلَا تَجْزَعْ لِحَادِثَةِ اللَيَالِي # فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ

Janganlah kamu gelisah terhadap musibah-musibah yang terjadi pada malam hari.

Sebab, tiada satupun musibah dunia itu yang kekal abadi.

Keterangan:

Kebanyakan dari manusia kehilangan kesabaran, bahkan merasa risau tatkala tertimpa musibah. Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia itu tidaklah selalu dalam satu kondisi.